Konsep reaksi redoks

PENERAPAN KONSEP REAKSI REDOKS DALAM PENGOLAHAN LIMBAH
(LUMPUR AKTIF)

    Sebagian besar industri pasti menghasilkan limbah, baik yang berbentuk gas, padat, maupun limbah yang berbentuk cair. Sebelum limbah itu dapat dibuang, limbah harus dipastikan telah aman bagi lingkungan dan makhluk hidup. Oleh karena itu perlu adanya pengolahan khusus baik secara fisika, kimia, maupun biologi. Beberapa industri memanfaatkan lumpur aktif yang mengandung bakteri dan jamur untuk menguraikan limbah cair karena dianggap sebagai metode yang cukup efektif. Prinsip dari penggunaan metode lumpur aktif ini adalah terjadinya proses oksidasi pada bahan atau zat-zat organik maupun anorganik agar dapat diolah dengan mudah di tahap selanjutnya.

     Adapun reaksi secara garis besar dapat ditunjukkan melalui persamaan berikut.
Organik + O2 → CO2 + H2O + energi

Tahap-Tahap Awal

1.Tahap awal

Pertama pemisahan benda asing seperti bangkai binatang, bebatuan kecil, pasir dan kayu. Hal ini dilakukan agar tidak mengganggu proses pada tahap selanjutnya. Setelah itu bahan-bahan tersebut harus digiling agar tidak mengganggu alat dan limbah dicampur agar laju aliran dan konsentrasi partikel konsisten.

2. Tahap Primer
Tahap ini disebut juga pengendapan. Partikel - partikel berukuran suspensi Dan partikel-partikel Ringan dipisahkan, partikel-partikel berukuran koloid digumpalkan DENGAN Disposals Elektrolit seperti FeCl 3 , FeCl 2 , Al 2 (SO 4 ) 3 , Dan CaO. 

3. Tahap Sekunder
Tahap sekunder meliputi 2 tahap yaitu tahap aerasi (metode lumpur aktif) dan pengendapan. Pada tahap aerasi oksigen ditambahkan ke dalam air limbah yang sudah dicampur lumpur aktif. Dengan agitasi yang baik, mikroorganisme dapat melakukan kontak dengan materi organik dan anorganik kemudian diuraikan menjadi senyawa yang mudah menguap seperti H2S dan NH3 sehingga mengurangi bau air limbah. Tahap selanjutnya dilakukan pengendapan. Lumpur aktif akan mengendap kemudian dimasukkan ke tangki aerasi, sisanya dibuang. Lumpur yang mengendap disebut lumpur bulki.

4. Tahap Tersier
Tahap ini disebut tahap pilihan. Tahap ini biasanya untuk memisahkan kandungan zat-zat yang tidak ramah lingkungan seperti senyawa nitrat, fosfat, materi organik yang sukar terurai, dan padatan anorganik.

5. Disinfektan
Disinfektan ditambahkan pada tahap ini untuk menghilangkan mikroorganisme seperti virus dan materi organik penyebab bau dan warna. Air yang keluar dari tahap ini dapat digunakan untuk irigasi atau keperluan industri, contoh Cl2.
Reaksi: Cl2 (g) + H2O (l) → HClO (aq) + H+ (aq) + Cl– (aq)

6. Pengolahan padat lumpur
Padatan lumpur ini dapat diuraikan bakteri aerobik atau anaerobik menghasilkan gas CH4 untuk bahan bakar dan pupuk.

Dikutip dari: 
https://www.slideshare.net/mobile/izzazennin/lumpur-aktif
https://idschool.net/sma/lumpur-aktif-sistem-pengolahan-limbah-cair/yayukcayayukcandrandra

Komentar